Manfaat Psikologis Puasa

Ramadlan 1432 H kembali kaum Muslim melaksanakan ibadah wajib berpuasa. Melakukan rutinitas makan di pagi buta sebelum matahari terbit (sahur) dan makan setelah mendengar adzan Maghrib untuk berbuka. Secara fisiologis, berpuasa berarti “meliburkan” organ-organ pencerna. Energi yang biasa dipakai untuk mencerna makanan digunakan untuk mempurifikasi tubuh.

Berpuasa dapat memurnikan sel-sel di dalam tubuh, termasuk sel otak. Dalam 50 tahun terakhir di Rusia, terapi berpuasa ditemukan sebagai perawatan terhadap pengidap schizophrenia yang paling efektif. Dr. Yuri Nikolayev, seorang direktur di Moscow Psychiatric Institute, di tahun 1972, melaporkan, penggunaan metode puasa sukses dalam menyembuhkan lebih dari 7.000 pasien yang menderita berbagai macam penyakit mental, termasuk schizophrenia.
Dalam usahanya itu, Nikolayev menterapi pasien sakit jiwa dengan menggunakan puasa selama 30 hari. Ia mengadakan
penelitian eksperimen dengan membagi subjek menjadi dua kelompok sama besar, baik usia maupun berat ringannya penyakit yang diderita. Kelompok pertama, diberi pengobatan dengan ramuan obat-obatan. Sedangkan kelompok kedua, diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Dari eksperimen ini diperoleh hasil, banyak pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medik, ternyata bisa disembuhkan dengan puasa. Selain itu, kemungkinan pasien tidak kambuh lagi selama 6 tahun kemudian ternyata tinggi. Lebih dari separoh pasien tetap sehat. Sedangkan, penelitian yang dilakukan Alan Cott terhadap pasien gangguan jiwa di rumah sakit Grace Square, New York juga menemukan hasil sejalan dengan penelitian Nicolayev. Pasien sakit jiwa ternyata bisa sembuh dengan terapi puasa. Ditinjau dari segi penyembuhan kecemasan, dilaporkan oleh Alan Cott, bahwa penyakit seperti susah tidur, merasa rendah diri, juga dapat disembuhkan dengan puasa.

Percobaan psikologi membuktikan, bahwa puasa memengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. Hal ini dikaitkan dengan prestasi belajarnya. Ternyata, orang-orang yang rajin berpuasa dalam tugas-tugas kolektif memperoleh skor jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

Pengendalian Diri Ciri Utama Jiwa Sehat

Di samping hasil penelitian di atas, sebagaimana ditulis Dra.Siti Uriana Rahmawati Fuad MA di situs masjidrayavip.org, puasa juga memberi pengaruh yang besar bagi penderita gangguan kejiwaan, seperti insomnia, yaitu gangguan mental yang berhubungan dengan tidur. Penderita penyakit ini sukar tidur, dengan diberikan cara pengobatan berpuasa, ternyata penyakitnya dapat dikurangi, bahkan dapat sembuh. Dari segi sosial, puasa juga memberikan sumbangan yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari kendala-kendala yang timbul di dunia. Di dunia ini ada ancaman kemiskinan yang melanda dunia ketiga khususnya. Hal ini menimbulkan beban mental bagi sebagian anggota masyarakat di negara-negara yang telah menikmati kemajuan di segala bidang. Menanggapi kemiskinan di dunia ketiga, maka di Amerika muncul gerakan Hunger Project. Gerakan ini lebih bersifat sosial, yaitu setiap satu minggu sekali atau satu bulan sekali mereka tidak diperbolehkan makan. Uang yang semestinya digunakan untuk makan tersebut diambil sebagai dana untuk menolong mereka yang miskin (Ancok, 1995). Apabila hal itu dikaitkan dengan dakwah Islam, jelas dosen UIN Jakarta itu, maka dengan tujuan amal ibadah, puasa yang kita lakukan mempunyai aspek sosial, yaitu selama satu bulan menyisihkan uang yang biasa dibelanjakan pada hal-hal yang kurang bermanfaat, misalnya Rp 2.000/hari, maka dalam satu bulan akan terkumpul Rp 60.000/ orang. Uang yang terkumpul dengan metode ini, kemudian, digunakan untuk santunan sosial. Selain itu, ibadah puasa yang dikerjakan sesuai ajaran Islam akan mendatangkan keuntungan ganda, antara lain: mendatangkan ketenangan jiwa, menghilangkan kekalutan pikiran, menghilangkan ketergantungan jasmani dan ruhani terhadap kebutuhan-kebutuhan yang bersifat lahiriyah. Menurut Hawari (1995), puasa sebagai pengendalian diri (self control). Pengendalian diri adalah salah satu ciri utama bagi jiwa yang sehat. Manakala pengendalian diri seseorang terganggu, maka akan timbul berbagai reaksi patologik (kelainan) baik dalam alam pikiran, perasaan, dan perilaku yang bersangkutan. Reaksi patologik yang muncul tidak saja menimbulkan keluhan subjektif pada diri sendiri, tetapi juga dapat mengganggu lingkungan dan juga orang lain

 

*suara-muhammadiyah.com

(AW)


Follow @petraya