Percetakan, sarana pendidikan anti korupsi

Budaya korupsi, seram dan sudah mencengkram bangsa Indonesia sedemikian rupa. Terlalu kuatnya sampai-sampai brand image jelek sebagai salah satu dari negara-negara terkorup pun melekat kepada kita.  Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index/CPI) 2011 yang dirilis oleh Transparency International di Berlin menyatakan bahwa Indonesia ada peringkat ke-100 dengan skor 3,0 poin bersama 11 negara lainnya yakni Argentina, Benin, Burkina Faso, Djobouti, Gabon, Madagaskar, Malawi, Meksiko, Sao Tome & Principe, Suriname dan Tanzania (www.antaranews.com,2011). Perlu Anda ketahui bahwa skor maksimal adalah 10 dan skor minimal adalah 0. Semakin tinggi skor suatu negara, justru makin tinggi tingkat korupsi di negara tersebut. Bisa dibayangkan, skor terkorup adalah 0 dan Indonesia memiliki skor 3,0. Bisa dibayangkan betapa korupnya Indonesia.

Kemajuan teknologi semakin mempermudah manusia. Namun kemajuan ini seperti pisau, kegunaannya tergantung dari penggunanya. Bila dipegang seorang koki maka akan bermanfaat untuk memasak, bila di tangan penjahat kemungkinan akan digunakan untuk membunuh orang. Demikian pula dengan teknologi cetak dan liku-liku bisnis di dalamnya, dengan mesin cetak kita dapat menggandakan dokumen dengan sangat mudah dan sesuai aslinya. Jika dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak benar seperti membuat nota atau kwitansi palsu, bahkan uang palsu tentu dapat merugikan orang lain bahkan negara.

Untuk itu dibutuhkan hati nurani dan ketelitian dalam setiap mencetak apapun. Jangan sampai percetakan mau menerima order pemalsuan seperti itu, jika mendapatkan order dokumen penting seperti sertifikat, nota, kwitansi apalagi yang dilengkapi dengan security printing, hendaknya harus dipastikan bahwa order itu adalah order resmi dari pemesan. Hal ini perlu dilakukan sebab dokumen-dokumen seperti yang tersebut di atas merupakan dokumen yang berkekuatan hukum. Jika sampai dipalsukan dan dipakai sebagai sarana korupsi, tentu akibatnya akan fatal apalagi dengan kinerja KPK sekarang ini yang sudah sampai ke daerah-daerah. Diperlukan kejujuran dan kehati-hatian baik dari klien maupun percetakan demi memutus praktek korupsi di Indonesia. Salam.


Follow @petraya